Indi's Friends

Selasa, 28 Desember 2010

Liburan Paling Hebat Sedunia! (dan dapat award, hihihi) :D

"Libut 'tlah tiba, libur 'tlah tiba, hatiiiiiiku gembiraaaaa. Hore!"

Sepenggal lagu Tasya ini kayanya jadi "jeritan hati" anak-anak SD yang lega banget bisa bebas dari stress sekolah untuk semantara, hihihihi. Nah, bagaimana dengan kalian, teman-teman? How's your holiday? Apa kalian juga "hore" kaya si Tasya?

Gue iya.
Meskipun sebenarnya antara hari biasa dan hari libur hampir nggak ada bedanya, soalnya gue sudah lulus kuliah dan sekarang bekerja dirumah. Jadi libur nggak libur, sama-sama menghadap komputer dan "santai" tanpa deadline, hehehe. Tapi gue justru memanfaatkan moment libur orang-orang disekitar gue buat bikin masa liburan se "hore" liburannya Tasya :D


Orang tua gue dan Ray kerja 6 hari perminggu. Meski kantor ortu gue bersatu dengan rumah, tapi kami baru benar-benar ketemu diwaktu sore-malam aja. Sedangkan Ray, wah apalagi, dia baru pulang selepas magrib dan baru sampai rumah larut malam. Waktu berkualitas yang bisa kami punya cuma di hari minggu. Itupun dimanfaatkan Ray untuk menemani gue terapi.
Waktu gue dengan orang-orang tercinta gue benar-benar sangat sempit, makanya gue sibuk ngatur rencana gimana supaya liburan yang cuma 3 (24-26 Desember) hari ini jadi maksimal.



Tanggal 24 Desember.
Yeay! It's Christmas eve! Oya, hampir lupa, meski agak terlambat (tapi natal itu artinya sepanjang Desember, btw) gue ucapin selamat natal untuk teman-teman semua, ya. Semoga kasih Tuhan selalu menyertai kalian, amen.
Gue dan keluarga berkumpul dirumah sepupu gue. Kenapa? Hehehe, sebenernya ini sekalian syukuran sepupu gue dan istrinya yang baru menempati rumah baru. It's super fun day, soalnya gue juga jadi punya quality time sama nyokap! Kami makan es krim dan diperjalanan pulang kami mampir ke mini market untuk beli pop corn. Tahu dong buat apa? Yep, Christmas eve nggak lengkap tanpa film (hehe, jangan pada protes ya). Tapi movie marathon baru mulai jam 9 malam, sebelumnya kami grooming Eris supaya makin cantik. Hmm, sebenarnya sih yang mengerjakan dua mas-mas baik hati dari peternakan anjing. Tapi gue dan nyokap ikut bantuin jagain Eris, kok, hahahaha :)

me and mommy



eris grooming :)


Tanggal 25 Desember.
Ini hari spesial buat gue. Soalnya selain keluarga, Ray juga bisa menemani karena sudah libur (wah, kantornya dia.. malam natal mana ada libur. Pulangnya juga tetep sama larutnya, sniff). Banyak hal seru yang gue kerjakan hari ini, tapi yang paling seru adalaaaaaaaaah (drum roll, please, lol): MOVIE MARATHON SAMA RAY! Hihihihi... Kenapa? Soalnya akhirnya gue bisa memaksa Ray untuk nonton "Christmas Story". Ray memang nggak pernah menolak buat diajakin nonton, cuma gue nggak terlalu yakin dia mau nonton film lama yang gambarnya udah butek dan sound'nya getel ditelinga. Tapi ternyata Ray suka. Dia tertawa sering sekali dan larut sama film'nya. Meski kesannya sepele, tapi ini film yang berarti banget buat keluarga gue. Kalau keluarga lain mungkin memilih "Chistmas Carol" atau "Miracle on 34th Street" sebagai tradisi natal, tapi kami memilih film ini :D
Setelah itu gue dan Ray nonton film Jerman (lupa judulnya apa). Nice movie tentang anak perempuan yang ingin punya ayah di hari natal.

Kami nonton di rumah, dilantai atas ditemani pop corn, cookies dan soda. Sempurna :)

cookies, mangkuk pop corn yang sudah kosong, soda


Tanggal 26 Desember.
Hari minggu artinya jadwal terapi gue. Yup, nggak pernah ada kata libur buat terapi, hihihi. Agak sedih, tapi gue bersyukur karena masih bisa terapi. Gue tahu nggak semua gadis pengidap scoliosis bisa terapi rutin kaya gue sekarang :)
Seperti biasa Ray temenin gue sampai terapi selesai. Karena ini hari terakhir liburan (hiks), jadi kami putusin buat dinner di tempat yang nggak terlalu ramai. Tapi ternyata sulit banget cari tempat damai karena bertepatan dengan pertandingan bola! Dimana-mana ada acara nonton bareng, deh. Hahahaha, meski gagal tapi kami tetep bahagia meski harus makan di restoran fastfood yang banyak anak kecil berlarian dan teriak-teriak (bahkan ada yang nangis, lho sampai mirip di Posyandu, lol). Apalagi pulangnya Ray beliin gue buku. It's nice. Karena meskipun gue author (penulis) tapi tahun ini gue memang kurang baca buku, hihihihi...

dres yang gue desain khusus untuk liburan :D

kami dan junk food, lol


27 Desember.
Lho, lho? Liburannya sudah selesai, kan?
Ternyata belum :) Khusus hari ini Ray bisa pulang cepat. Jadi kami bisa ke mini market buat beli bahan makanan dan masak dinner sama-sama buat kami, bokap gue dan adik (nyokap lagi di RS nemenin nenek). Wah, senangnya. Apalagi menu malam ini kesukaan gue: PASTA! :D
Rasanya bahagia gue berlipet-lipet, deh bisa dikelilingin orang-orang yang gue sayangi selama liburan (plus satu hari) ini :)

aksi kami di dapur, lol

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apa yang kalian lakukan? Rasanya makna liburan harus ditambahi sedikit selain untuk "lari" dari rutinitas. Tapi liburan juga sama dengan memaksimalkan waktu dengan orang-orang yang gue cintai. I'M BLESSED!











--------------------------------------------------------------------------------------
Oya, nggak nyambung sama post diatas, gue mau kasih kabar nih, kalau blog gue dapat award. Senangnya... Apalagi gue dapat 2 award "STYLISH BLOGGER", hihihihi...
Terima kasih buat Azhia (http://azhiaminibook.blogspot.com/) dan Amelia (http://ameliasaga.blogspot.com/) atas award yang kalian berikan :)

So, sebagai penerima award (hihihihi, berasa pemenang piala Oscar), gue harus ikutin "aturan mainnya", nih. Pertama, gue harus sebutin 8 hal tentang diri gue:
1. Scolioser
2. Left handed
3. Naturally brunette
4. Tergila-gila dengan anak-anak berwajah angelic (terutama dengan almarhumah Heather O'Rourke. Googled her kalau kalian nggak tahu, btw)
5. Paling gampang nangis kalau nonton film tentang anak-anak, musikal dan binatang
6. Sangat emosional melihat anak-anak di clip Michael Jackson (Jealous!)
7. Pet keeper
8. I'm an fashionable geek :)

Kedua, Gue harus pilih 8 blogger lain untuk dapat award ini:
1. Niken (http://arinka-ayu.blogspot.com/), untuk baju-baju cute yang Arinka pakai.
2. Diana (http://dianarikasari.blogspot.com/), untuk fashion taste'nya yang unik.
3. Evita (http://jellyjellybeans.blogspot.com/), untuk potongan rambutnya of course (sama-sama berponi, lol)

4. Dita (http://handmadenest.blogspot.com/), untuk tangan kreatifnya.
5.
6.
7.
8.

(Gue masih baru disini, baru kenal beberapa nama. Nanti list'nya menyusul, ya ;))
Begitu :)

Sabtu, 27 November 2010

Man's Best Friend...







Hari ini gue berencana buat diem dirumah. Mandi larut dan ditempat tidur seharian. Biar deh 1 minggu sekali aja gue dapetin perhatian full dari Ray yang lagi di kantor. Maklum, setiap hari gue selalu nunggu-nunggu teleponnya (yang seharusnya) setiap satu jam sekali ;)) Tapi baru aja jam 11 pagi, waktu gue lagi menikmati tempat tidur dan telepon ke 4 dari Ray, tau-tau aja nyokap minta gue bangun dan pergi ke rumah Uak. Yah, setelah nego sana-sini, akhirnya pergi juga gue kesana meski tanpa mandi dan gosok gigi (cuma ganti baju doang, hihihi).

Begitu sampai di rumah Uak ternyata gue berubah semangat. Pasalnya Uak minta bantuan untuk mengurusi anjing dan mengantar dia ke pet shop. Ya, maklum aja, soalnya Uak baru beberapa hari adopsi anjing. Katanya dia udah lupa "caranya" karena terakhir kali punya anjing ya waktu remaja dulu, namanya Cupy yang mati karena tua.
Setiap kali ada yang minta bantuan sama gue, kalau itu menyangkut anjing, pasti gue "iya-kan". Malah gue sering dianggap geek tentang anjing karena hampir hapal isi 1 ensikopedia tentang anjing, hehehe.
Jadilah hari ini gue melatih Doggy (nama anjing Uak) untuk shake hand (dan hal-hal basic lainnya) ditemani Eris anjing golden retriever gue :)


bersama eris disebrang rumah uak


Oya, sebelumnya harus gue ceritakan juga kalau asal-usul Doggy sebetulnya nggak terlalu jelas. Jadi suatu hari Uak yang lagi butuh anjing penjaga tiba-tiba aja "dihadiahi" bayi anjing oleh pengurus rumahnya. Katanya ini anjing liar yang ditinggalkan induknya. Nggak tau jelas induknya anjing jenis apa dan ada dimana, tapi si pengurus rumah yakin dia pernah lihat bapaknya. Waktu ditanya jenis anjingnya, dia cuma bilang, "Anjingnya besar, coklat". Begitu.
Uak sebenarnya nggak terlalu yakin mau pakai anjing nggak jelas ini sebagai penjaga, tapi berhubung belum menemukan anjing lain yang "tepat", jadi Uak putuskan untuk memelihara Doggy dulu sementara.


Setelah "bermain-main" (baca: berlatih) sedikit dengan Doggy, Uak dan gue langsung pergi ke pet shop. Disepanjang perjalanan, Uak terus-terusan minta gue telepon atau SMS teman-teman yang berternak anjing penjaga. Ya, Uak mau mengadopsi anjing untuk menggantikan Doggy segera.
Ada beberapa kandidat anjing yang dirasa cocok. Uak berencana mau menemuinya sepulang dari pet shop.

Di pet shop Uak langsung melihat-lihat rantai untuk anjing Doberman. Dengan serius dia berdiskusi dengan penjaga toko tentang rantai yang paling tepat. Gue sendiri cuma mendengar sekilas pembicaraan mereka dan melihat-lihat makanan untuk bayi anjing.
Waktu gue lagi lengah tiba-tiba aja Uak muncul disamping gue sambil bawa tali kecil untuk kucing.
"Ini bagus, nggak?" tanya Uak.
"Loh, itu apa?" bingung kan gue...
"Ini untuk si Doggy, kan lehernya masih kecil,"
"Oh...(??)"
Meski bingung gue nggak bertanya apa-apa. Otak gue langsung menyimpulkan sendiri kalau Uak pasti mau beri talinya untuk Doggy setelah nggak dirawatnya lagi (Doggy rencananya akan diurus kembali oleh pengurus rumah Uak).

Sesuai rencana kami menuju rumah teman yang menjual macam-macam anjing penjaga. Diperjalanan Uak nggak banyak bicara. Dia cuma bilang kalau Doggy itu lucu, ukuran matanya kecil sebelah. Gue cuma senyum aja menanggapi kata-katanya.
Akhirnya kami sampai dan mobil diparkir agak jauh dari rumah teman gue. Nggak ada salah satu dari kami yang keluar dari mobil. Bicarapun nggak. Cuma diam sampai kira-kira 15 menit...

"Sudah, lah kita pulang aja. Tolong jangan beritahu Uak kalau ada yang jual anjing, ya. Soalnya Uak mau pelihara Doggy. Selamanya!"

Dan gue pun tersenyum. Kalimat "Man's best friend" terbukti benar. Seekor anjing, jenis apapun itu, ras murni, campuran atau yang biasa disebut anjing kampung seperti Doggy selalu bisa menjadi sahabat manusia. Karena anjing nggak mengenal jenis, mereka semua sama: percaya dan akan menjaga tuannya selamanya.
Dalam hati gue langsung berjanji akan melatih Doggy dan membawanya ke dokter hewan untuk vaksin pertamanya. Selamat datang di keluarga kami, Doggy!



doggy!



nb: Nama "Doggy" diambil dari asal katanya yaitu "Dog". Karena Doggy sebelumnya memang nggak mempunyai nama, jadi hanya dipanggil seperti dirinya sendiri. Yaitu... anjing ;)

Sabtu, 20 November 2010

Foto Bercerita dibulan November



Halo teman-teman, sudah delapan hari gue nggak post cerita baru, ya? Hehehe, nggak nyangka bakal selama ini. Tapi bukan berarti hati gue stuck di tanggal 12 November, lho :))

Selama 8 hari ini gue sempat ada "adu mulut" dengan Ray selama beberapa hari. Pasalnya bulan Desember nanti dia bakal pergi ke Singapur selama 4 hari untuk pekerjaannya. Dan itu bikin gue kehilangan berat. Sayang cara gue mengekspresikan "kemanjaan" kurang tepat, sampai Ray sempat ikut emosi dan kami panik. Tapi syukurlah semua selesai dan hati gue sudah lebih tenang sekarang :)

Tadi waktu gue buka-buka file komputer, gue temuin 1 foto kami yang gue pikir menarik untuk di share disini. Memang sih gambarnya kurang jelas karena fotonya sudah lama. Tapi coba perhatiin, deh baik-baik: disebelah kiri itu foto Ray kecil dan disebelah kanan itu Indi kecil (It's me, lol). Ada yang temuin persamaannya? Yup! Kami sama-sama berusia 5 tahun waktu foto itu diambil dan kami juga sama-sama pakai baju tentara. Tapi persamaan yang paling lucu adalah, kami sama-sama nggak suka kalau baju kesayangan kami itu dicuci! Hahahaha :) Lucu, ajaib. Padahal kami berdua dulu nggak saling kenal.


sama-sama berasa PD dan "hebat" kalau pakai baju ini, hahahaha :))



Selain itu keluarga gue juga kedatangan "anggota" baru nih :) Namanya "VANESSA". Dia adalah new baby born dari istri Om gue yang tinggal di Tanggerang. Ain't she's so cute?? ;)
Bertambah lagi deh sepupu perempuan gue. Seneng. Cuma sayangnya yang sebaya sama gue cuma Gina yang tinggal dibeda kota, hihihi...

vanessa: sangat mirip bapaknya. tapi rata-rata bayi perempuan yang baru lahir memang begitu. nanti setelah beberapa lama baru agak mirip ibunya juga (terjadi sama gue, sepupu dan hampir semua orang yang gue kenal, lol)



Sisanya bakal gue share dalam bentuk foto-foto, ya. Yang pertama gue nemu foto-foto gue dan Om Bule (Richard from "Gue Bule Ngehe" blog) waktu kami kopdar di Bandung dari album Facebooknya. Dan yang terakhir foto-foto sepulang wisuda sarjana gue di studio foto dekat rumah yang hasilnya baru gue ambil kemarin.
Enjoy!
Semoga kalian juga menikmati bulan November, btw ;)



richard dan gue tertawa ala "bangsawan" (HAHAHAHA, masih pengen ketawa kalau inget moment ini)

gue dan bianca (ricahrd GF) bergaya ala ABG (ya Tuhan... usia kami berapa, ya?)


sepulang wisuda tanpa toga dan jubah. nyokap suka foto ini. gue keliatan dewasa katanya :)


do i look smart? lol


with my mommy and daddy. sekarang kalian jadi tahu kan kulit pucat ini gue dapat darimana? ;)



Jumat, 12 November 2010

Gaun Pengiring Pengantin dihari Wisuda :)


Halo semua, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. Soalnya cuaca yang sering berubah-rubah belakangan ini bikin rawan flu (termasuk gue yang juga kena, hehehe) :) Hari ini gue mau cerita tentang wisuda gue yang serba mendadak (Ya, gue AKHIRNYA wisuda, lol).

Tanggal 10 November kemarin, disaat semua orang memperingati hari pahlawan, gue malah wisuda! Sebetulnya gue sudah nolak buat ikutan sejak bulan Juli lalu. Ya, sejak jauh-jauh bulan! (bukan jauh-jauh hari lagi). Alesannya karena gue sudah lulus, tau IPK gue, sudah salaman sama semua dosen juga, hehehe. Jadi apa lagi?
Tapi Nenek gue berpendapat lain. Baginya wisuda adalah suatu "kebanggaan". Lulus saja belum cukup, beliau pengen punya kenang-kenangan untuk dipajang dirumahnya: Foto gue yang lagi pakai toga dan kebaya.
Waaaah, andai Nenek tau... Sebetulnya pakai toga, kebaya dan konde'lah yang gue hindari. Soalnya terlalu ketat, gerah dan kondenya bikin pusing. Kalau harus pakai ini semua, gimana gue bisa menikmati prosesi wisuda yang berjam-jam? Bisa-bisa gue udah pingsan duluan...

Orang tua gue bisa mengerti. Mereka setuju lebih baik kami syukuran dirumah saja. Sesuatu yang sifatnya simbolis nggak terlalu penting. Toh, semua anak yang sekolah asalkan rajin belajar (dan fasilitas mendukung) pasti bisa lulus. Itu kan proses, jadi nggak perlu dibesar-besarkan.
Tapi akhirnya di detik-detik terakhir orang tua gue minta gue ikut wisuda. Alasannya bisa ditebak, mereka nggak mau mengecewakan Nenek. Ibu bilang, Nenek sudah tua, kadang sulit untuk diberi penjelasan kalau wisuda itu nggak penting. Lebih baik gue menurut daripada jadi kekecewaan berkepanjangan...

Jujur, beberapa hari sebelum wisuda gue sempat ngambek. Nolak pakai kebaya dan parno banget rambut gue yang cuma segini-segini harus ditempeli konde (soalnya kalau hanya dicepol, paling cuma dapet sejempol, hehehe). Orang tua gue akhirnya kasih kebebasan apa yang akan gue pakai nanti. Syaratnya asalkan rapi dan formal. Dikejar waktu yang sudah sangat dekat, hal pertama yang gue inget cuma buku baju pengiring pengantin yang dikasih sama Mrs. Patty, hahaha. Akhirnya gue plilih long dress tercantik yang ada disana. Dengan sedikit corat-coret (ya, gue suka sekali mendesain baju), gue minta Ibu untuk jahit long dress yang sudah di modifikasi itu. Ibu agak nggak percaya gue mau pakai baju pengiring pengantin. Tapi setelah gue tunjukin desainnya, beliau setuju ;)

Waktu hari wisuda datang, gue putuskan buat nggak ambil pusing. Gue inget cerita sepupu dan teman-teman gue yang harus bangun jam 4 subuh untuk persiapkan kebaya, make up dan konde. Tapi cerita gue ternyata nggak seperti itu (terima kasih Tuhan...). Gue bangun jam 7 pagi (hampir seperti biasa) dan cukup cuci muka (gue mandi 2 hari sekali, btw, lol). Setelah itu gue pakai long dress'nya. Almost no make up. Gue cuma pakai bedak tipis, lip gloss dan blush on. Untuk rambut gue biarkan terurai, cuma gue kasih hiasan bunga-bunga kecil.

Nenek agak kaget dengan penampilan gue. Beliau bilang, "Mana kondenya? Nggak pakai kebaya?", tapi gue cuma senyum dan biarkan Nenek tau sendiri jawabannya nanti.

***

Gue diantar Bapak, Ibu dan Nenek. Sabuga, tempat gue wisuda sudah penuh sepenuh-penuhnya. Agak heran juga kenapa banyak wisudawan/wati yang bawa rombongan sampai 2 mobil. Padahal sudah jelas undangan yang boleh masuk hanya 2 orang. Alhasil banyak wisudawan/wati yang mau masuk gedung malah terhalang sama tamu-tamu tanpa undangan. Untungnya, sejak tahun 2004 gue sering mengisi choir disini, jadi sudah tau harus lewat mana supaya cepat, hihihi...

Di dalam gedung gue sering sekali dapat pertanyaan-pertanyaan heran seperti, "Indi, nggak pakai konde?" atau "Indi, nggak pakai kebaya? Padahal kan supaya cantik seperti yang lain", dll.
Gue sih tetap cuek aja, soalnya yang tau batas nyaman kan cuma diri sendiri. Soal cantik itu belakangan. Kalau teman-teman lain bisa tahan pakai baju daerah lengkap dan heels, nah nggak begitu dengan gue. Lagipula susana nampaknya nggak mendukung untuk pakai baju yang agak ribet. Bayangkan aja, ada seribu lebih wisudawan/wati disana. Belum lagi jumlah security yang berlebihan bikin ruangan makin terasa sempit. Itu belum termasuk tamu tanpa undangan yang berhasil masuk. Bisa kebayang kan gimana suasananya? Sudah mirip nonton konser rock pakai konde aja, hihihihi :)

Akhirnya prosesi wisuda selesai. Beberapa teman dan dosen yang tadinya bilang gue "kurang cantik" berbalik memuji karena sampai akhir acara cuma gue lah yang wajahnya nggak belepotan karena make up campur keringat. Tapi buat gue yang paling lucu adalah pendapat Nenek gue. Beliau bilang,
"Bagus juga ternyata pakai baju santai. Emah (panggilan Nenek) mah kasian liat yang sebelumnya pada cantik malah pada selonjoran dilantai gara-gara pegel pakai sepatu tinggi".

Hihihi :)
Gue nggak mengecilkan teman-teman yang berpakaian ribet, tentu aja. Menurut gue usaha mereka memang sepadan, kok. Dimata gue mereka tampil sangat cantik. Tapi rasanya nggak masalah kalau gue berpendapat bahwa kebaya, konde dan high heels kurang tepat untuk dipakai disuasana ramai dan gedung yang kurang memadai. Wisuda sarjana itu satu kali seumur hidup, gue mau menikmati setiap detik moment'nya tanpa terganggu pakaian gue. Sekali lagi, gue nggak mengecilkan teman-teman yang lain, lho. Gue cuma mau menekankan bahwa kenyamanan adalah yang utama. Dan yang terpenting cantik itu kan in the eye of the beholder ;)




Kamis, 11 November 2010

Ayo menulis untuk buku kedua gue! :D


Wah leganya novel kedua gue hampir siap! :D

Setelah tahun lalu novel pertama gue terbit (Waktu aku Sama Mika), tahun ini novel kedua gue akan menyusul. Masih dari penerbit yang sama, Homerian Pustaka, konsep kali ini adalah memoir. Ya, semacam buku harian gue dari kecil sampai sekarang, deh, hihihihi. Disana selain ada kisah-kisah gue juga akan ada testimoni dari pembaca "Waktu aku Sama Mika". Awalnya, sih testimoni-testimoni itu berasal dari public figure dari macam-macam bidang. Ada dari bidang musik, novelis, televisi dan lain-lain. Tapi kemarin penerbit punya ide supaya teman-teman pembaca juga ikut sumbang testimoni di novel gue.
Wah ide bagus! Sangat-sangat setuju :)
Kalian mau berpartisipasi? Dengan senang hati gue terima.

Caranya, kirim komentar singkat kalian tentang novel "Waktu aku Sama Mika" ke namaku_indiankecil@yahoo.com
Atau, untuk pengguna Facebook bisa kirim pesan ke inbox gue (INDI KECIL BABBITT atau INDI SUGAR). Sertakan nama, usia dan profesi kalian, ya. Cukup kirim ke salah satu account/email saja. Supaya gue lebih mudah bacanya :)

Untuk komentar yang terpilih akan dimuat di cover belakang novel gue.



Supaya kalian nggak kebingungan, gue akan post beberapa testimoni yang sudah masuk ke Facebook gue:

"Waktu aku Sama Mika ditulis dengan penuh cinta karena aku merasakan cinta ditiap tulisannya".
(Angela Febriani Tobing,19 tahun, Mahasiswi)

"Sempurna itu ada di semua orang, tergantung gimana cara kamu lihatnya. Touchy!".
(Inchan pratiwi, 18 tahun, Graphic design student)

"Jujur, tulus dan apa adanya. Tidak dilebih-lebihkan hanya supaya bisa menggunakan kata-kata yang terdengar hebat, melainkan sederhana dan mudah dimengerti oleh hati".
(Alice Ayu, 20 tahun, Penulis merangkap calon auditor)



Begitu :)
Gue tunggu email dari kalian, ya. Terima kasih banyak.

xo,
Indi "Sugar pie"


Kamis, 04 November 2010

Walking with "Giant" :p


Mau nulis nggak ya? Mau? Nggak? Mau? Nggak? Nggak mau? Mau!
Hahahaha, mulai ngaco deh gue. Hmm, sebenernya sih hari ini gue lelah banget. Tapi berhubung tidur nggak bisa dan kalau bengong malah mikir yang nggak-nggak, lebih baik gue nulis aja, deh, lol.

Kali ini gue mau cerita tentang Richard, temen gue yang biasa dipanggil Om Bule (meski sebetulnya gue lebih tua dari dia, hehehe).
Gue mengenal si Om ini lewat dunia blog. Awalnya sih nggak sengaja, waktu gue lagi visit blog teman, disana ada link ke suatu blog yang namanya aneh: Bule Juga Manusia. Iseng-iseng, gue klik dan mulai baca blog'nya. Wah, ternyata isinya lebih aneh daripada judulnya. Banyak cerita nggak penting dan foto-foto "mengerikan", lol. Tapi, entah gue mulai terhipnotis atau memang jatuh cinta, gue jadi ogah ninggalin blog itu dan malah betah baca postingannya satu persatu! Ckckckck... :p
Meskipun begitu, gue sama sekali nggak ninggalin komentar. Alasannya sederhana: Gue nggak mau dianggap sebagai orang asing yang nimbrungin cerita-cerita pribadi dia. (Seriously, it's like reading a dude's diary, lol).

Sampai suatu hari (yang mana sangat jarang terjadi), gue melakukan random add di Facebook. Dan tanpa sengaja yang gue add itu account'nya Om Bule! Ternyata oh ternyata... dunia ini sempit sekali... (iya, lah. Namanya juga internet, lol). Langsung aja gue kasih link blog gue dan bilang kalau gue suka sama blog'nya.
Entah berapa lama kemudian (yang pasti cukup lama sampai gue lupa pernah ninggalin link di wall'nya), waktu gue on line tengah malem, gue terima pesan di inbox FB dari si Om Bule. Isinya cukup panjang. Tapi intinya dia merasa nggak enak karena baru sempat baca blog gue setelah sebelumnya dia dikejar deadline novel perdananya. Dia bilang tulisan gue beautiful (ah, jadi malu, lol) dan punya ide untuk barter 1 kopi buku gue dengan traktiran wisata kuliner kalau dia berkunjung ke Bandung nanti.
Wah, jelas aja gue mau :)


***

2 November 2010
Dan inilah kami,
Gue langsung menyalami Om Bule dan nona manisnya (namanya Bian :) ) begitu sampai di BIP. Agak konyol juga karena tanpa basa-basi gue langsung bilang kalau gue lapar dan pengen langsung makan, hehehe. Alhasil, sebelum sempat ngobrol-ngobrol, kami langsung sibuk cari tempat makan, dan sudah bisa ditebak, gue pasti ngerepotin karena status gue yang vegetarian, lol. Akhirnya supaya semua bisa makan, kami pilih untuk ke food court (yang ternyata percuma karena cuma gue doang yang makan, hahaha). Disana barulah kami mulai ngobrol-ngobrol selayaknya teman on line yang baru ketemu.

Kesan gue tentang Om Bule sedikit berbeda dari yang gue tangkap di blog'nya. Ternyata dia nggak se'ngehe yang dikira, hehehe. Gue pikir dia bakalan cerewet dan bersuara besar (sebesar badannya, lol), tapi ternyata dia bicara dengan volume dan kecepatan yang normal, kok, lol. Tapi kalau soal kocak, dia memang sekocak di blog'nya. Buktinya waktu kami foto-foto dia bisa bergaya aneh-aneh sampai gue puas ketawa lihat gayanya, hahaha. Sayang gue nggak punya gambarnya, soalnya fotonya diambil dari kamera Om Bule dan gue cuma dapet satu foto malu-malu yang diambil sama Bian, huhuhu. Gue jadi nggak sabar Om Bule upload foto-foto kami, nih. Soalnya selain foto gue dan Om Bule, ada juga foto gue dan Bian yang ala AL4Y :p


foto malu-malu kami, hihihihi


Gue yang baru sembuh dari sakit jadi nggak punya waktu cukup buat bawain kedua teman baru gue ini hadiah. Gue cuma bawa 1 novel "Waktu Aku Sama Mika" yang nggak dibungkus pula, hihihihi... agak memalukan, ya? :p Tapi semoga aja mereka suka bukunya.
Ternyata Om Bule bawain gue oleh-oleh dari Australia. I'ts a cute Koala stuffed doll! Wah, gue seneng banget, soalnya bisa nambahin koleksi boneka gue :) Makasih ya Om Bule....
Oya, ada kejadian lucu lho pas acara "tuker kado", Bian bilang sama gue kalau dia pernah dikasih boneka koala sama Richard tapi buatan Cina, padahal belinya di Australia. Langsung aja gue masukin boneka gue ke dalem tas, takutnya Om Bule langsung berubah pikiran dan kasih bonekanya ke Bian, hahahaha.



boneka koalanya sekarang jadi penghuni baru diatas tempat tidur gue. liat match banget kan sama wallpaper dikamar gue? :)


Selesai (gue) makan kami ke bioskop. Entah ide dari mana (ehmm, sebenernya dari gue, sih, lol), kami putusin buat nonton "Setan Facebook". Wah posternya bikin penasaran banget, soalnya dari semua cast yang disebutin nggak ada satupun yang kami kenal. Tebakan kami, sih, ini pasti tipikal film Indonesia yang "konyol", alias baru 5 menit film diputar langsung ada adegan sun-sun'an, hehehe. Tapi ternyata kami nggak bisa langsung nonton (padahal udah nggak sabar, lol), soalnya film baru dimulai 1 jam lagi.

Sambil nunggu kami main dulu di Timezone. Ya, niatnya sih cuma mau have fun aja sambil habisin waktu. Tapi ternyata kami malah dirampok! Untuk yang berniat main ke Timezone, lebih baik baca dulu pengalaman gue dan teman-teman tadi sore:
Tau kan mesin permainan boneka alias catcher doll machine yang menarik hati itu? Dengan mata berbinar, gue dan Bian pengen banget dapetin salah satu boneka di mesin itu. Om Bule yang baik hati ternyata mau dapetin bonekanya buat kami (hore... hore...). Setelah beli 1 kartu game, Om Bule mulai berjuang untuk dapetin boneka beruang warna biru. Awalnya sih dia cuma asal nangkep aja, cuma lama-lama gemes juga sampai-sampai dia mulai ukur "sudut ketepatan antara kait dengan boneka", hehehe. Boneka beruang incaran itu beberapa kali nyangkut di kaitnya, tapi anehnya malah terlepas waktu udah deket ke kotak keluar. Sampai akhirnya Om Bule yakin banget bidikannya kali ini bakal tepat. Dan... terbukti, bonekanya nyangkut, swinging berkali-kali... oops, ternyata meleset LAGI! Hfff...
Nggak tahu sudah berapa kali kartu digesekan ke mesin itu sampai tau-tau aja empty. Tadinya sih kami pikir sudah cukup, cuma musik yang keluar dari mesinnya itu lhooooo, kayaknya manas-manasin kami banget! Akhirnya diisi ulang lagi kartu game'nya si Om Bule. Kali ini kami mau coba mesin dengan boneka yang lebih besar, soalnya kami pikir peluang dapet bonekanya pasti lebih besar. Ternyata SALAH BESAR! Tekanan dimesin ini jauh lebih besar. Boneka-boneka besar yang asik nyengir ke arah kami ternyata cuma kasih harapan palsu. Mereka selalu jatuh TEPAT disamping kotak keluar! Hmm, mulai curiga kaitnya dirancang khusus untuk melonggar di waktu-waktu tertentu... Sniff, akhirnya kami keluar dari Timezone dengan tangan kosong. Bener-bener kosong, karena kartu game yang kedua juga isinya sudah habis, hahahaha (ketawa sedih).

Masih dalam rangka nunggu film dimulai, Om Bule beli pedang-pedangan dulu. Yes, betul pedang-pedangan pajangan gitu (Aku bantu kamu ya, Richard. Kalau nanti dibandara kamu dilarang bawa pedang ini karena dianggap senjata tajam, kamu tunjukin saja postingan aku, jadi ada bukti kalau yang kamu bawa itu memang pedang-pedangan, hahaha). Si Om Bule pilih-pilihnya lamaaaaa banget. Persis banget kalau gue masuk toko sepatu, lah, lol. Untungnya dia nggak minta pedangnya langsung dipakai, kaya kalau gue lagi belanja sepatu :p
Akhirnya pedang yang dipilih warna hitam. Keren banget, deh pokoknya. Ada tulisan Jepangnya juga, tapi gue nggak tau artinya apaan. Yang penting mah keren, hihihihi.


Waktu kita sampai dibioskop ternyata film'nya sudah dimulai. Terpaksa deh kita jongkok-jongkok takut ganggu orang-orang yang serius nonton "Setan Facebook" (gue dan Bian sih nggak apa-apa, soalnya pada imut. Nah, si Om Bule, tingginya hampir 2 meter, lol). Waktu gue jongkok-jongkok sebenernya agak mirip orang tiarap waktu perang, soalnya gue orangnya penakut abis kalau soal film hantu-hantuan, lol.
Akhirnya, setelah kami duduk dikursi sembarang, kami mulai nonton filmnya. Begini ceritanya...
*yawning* Ada hantu hobinya main Facebook, jadi dia bunuh orang-orang di friendlist'nya. Tamat.
Iya, betulan tamat. Ceritanya memang segitu-gitunya, suara pemainnya juga nggak begitu jelas, kaya orang lagi kumur-kumur gitu. Editornya juga jelek. Hantunya nggak serem. Tapi justru karena semua kekurangan itu kami jadi ribut ketawa-ketawa sepanjang film. Contohnya aja yang bikin ngakak, ada adegan bule (nggak tau siapa namanya) mau hack account'nya si hantu. Tau nggak dia ngapain? Dia cuma buka profile hantu dari account'nya sendiri, nggak ngapa-ngapain, geleng-geleng, isep rokok terus bilang, "Nggak bisa...", hahahahaha. Atau ada nenek-nenek yang mengenalkan diri, maksudnya sih misterius, tapi suaranya nggak jelas dan malah kedengeran kaya, "Panggil saya Oma POCHONG", whuahahahahaha...
Ada satu adegan yang sukses bikin Om Bule dan Bian ngakak, yang sayangnya gue nggak perhatiin. Katanya sih waktu hantunya mau nyergap pemeran utamanya yang lagi nyetir mobil, pemeran hantunya udah nongol-nongol di bangku belakang sambil nungguin aba-aba gitu! Hihihihihi, what a movie :')

Kamipun keluar bioskop sambil ketawa-ketawa heboh. Beberapa kali kami ngulang dialog-dialog konyol yang ada di film itu (dan favorit kami adalah, waktu si cowo bule bilang sama temen cewenya supaya jangan dulu bukan FB, si cewe langsung panik sambil bilang, "Sampai kapaaaan???!!!" Hahaha, seolah dia dilarang nafas atau makan, lol). Rasanya kalau dipikir-pikir lagi cuma kami bertiga yang ketawa-ketawa waktu nonton. Eh, jangan-jangan penonton lain anggap film itu terlalu serius sampai-sampai berasa masuk ke setiap adegannya? Come on, you've gotta be kidding me :p

Akhirnya, kami harus berpisah. Selain waktu yang semakin larut, mall'nya juga hampir tutup, hihihihi. Nice to see you Om Bule, Bian. Makasih oleh-olehnya. Kapan-kapan kita main lagi, ya... Atau bikin film "Setan Blogger" sekalian, lol. Oya, ngomong-ngomong, boneka koala'nya gue kasih nama "Ribi". Tau kan singkatan dari apa? ;)




Blog'nya Om Bule: http://bulejugamanusia.blogspot.com/



yang paling depan itu koin dari Om Bule. horeeee, dapet tambahan koleksi uang asing deh :)


Senin, 11 Oktober 2010

Selamat Ulang Tahun, Idolaku...


Katanya waktu kecil gue nggak bisa lepas dari pelukan dia.
Katanya waktu kecil gue suka cium bau badan dia sampai tertidur.
Katanya waktu kecil gue pernah diajarin gerakan karate supaya bisa lawan sepupu-sepupu yang badannya lebih besar.
Katanya waktu kecil gue suka jinjit diatas kakinya sambil pura-pura dansa...

Sekarang gue sudah besar.
Sudah bisa tidur meski nggak cium aroma tubuhnya.
Sudah bisa bilang "malu, ah..." kalau dia tuntun gue waktu jalan-jalan di mall.
Sudah bisa berdebat kalau dinasehati ini-itu...


Tapi ada satu hal yang nggak pernah berubah,
Dari dulu sampai sekarang, nanti, selamanya...
Gue akan mencintainya, mengidolakannya, memujanya. Selalu...

Happy birthday, Bapak...
Temani putri kecilmu ini sampai nanti, ya. Janji?


Rabu, 06 Oktober 2010

Jangan Takut Bermimpi :)

Sofa impian gue...


Hai semua! Apa kabar hari ini? Baik? Buruk? Biasa aja? Hehehehe..
Gue sendiri nggak terlalu baik. Bahu kanan gue sakit banget. Rasanya hampir lepas dari badan gue (lebay). Mungkin gara-gara kebanyakan texting di HP ya? Hihihihi...
Terlepas dari hari ini, gue mau ceritain salah satu hari terbaik yang pernah gue alamin. Hari itu adalah 24 Agustus 2010. Kenapa? Karena hari itu berhasil bikin gue histeris dan 'banting' HP, lol.
Daripada kalian bingung dan bayangin yang nggak-nggak (bayangin gue terlalu tajir sampe berani banting HP, lol), lebih baik gue ceritain dari awal...


24 Agustus, sore-sore didalem mobil, hujan lebat, macet pula!
Gue SMS Ray untuk bilang kalau gue udah jalan dari 30 menit yang lalu. Gue khawatir dia masih di kantor dan bikin gue yang harus nunggu dia di acara gathering salah satu airlines Indonesia. Belum sempet gue pijit tombol "send", HP gue udah berdering. Gue pikir itu Ray, tapi waktu gue lihat nomornya ternyata gue nggak kenal.
Gue langsung tanya bokap yang waktu itu lagi nyetir apa gue harus angkat teleponnya. Dia bilang, "angkat aja siapa tau penting,".
Akhirnya...

"Halo?"

"Ya. Dengan Indi Taufik?"

"Yes, saya sendiri, " (sambil cekikikan karena suara disebrang sana serius banget, hihihi).

"Saya Rosianna Silalahi, saya..."

"Siapa???"

"Rosianna Silala..."

Pluk! HP gue jatuh dari genggaman gue. Badan gue mendadak lemes saking kagetnya. Baru 2 hari yang lalu gue menghayal bisa tampil di talk show "Rossy" dan hari ini tiba-tiba aja Tuhan kasih jawaban mendadak.

Bokap gue kebingungan dan minta gue ambil HP yang hampir menggelinding ke belakang jok mobil.

"Ada apa, sih? Siapa tadi?"

"Rossy, Pak... Rossy...", jawab gue histeris.

"Rossy? Siapa?"

"Arrrrrrghhhhh... ROSSY, PAK. ROSIANNA SILALAHI... Ya Tuhan, aku lemes," mulai lah gue norak.

"Hah? Mau ngapain? Kok sampai telepon kamu??"

"Nggak tau, Pak... Makanya sekarang aku lemes gini. Hampir pingsan, hiks..."


Ring... Ring...

"Pak! Nomor yang tadi! Angkat jangan???"

"Ya, angkat lah..."

"Deg-deg'an..."

"Jangan Ge'er..."

"Dasar!"


Dua detik kemudian...

"Ha.. halo?..."

"Tadi teleponnya terputus ya?"

Think fast Indi, think fast! "Iya, maaf signalnya tiba-tiba hilang,"
(Lol, gue berbohong tuh, hihihi).

"Iya, tidak apa-apa. Hmm, begini Indi. Saya lihat kamu di facebook. Kamu mau datang ke acara saya tanggal 26 nanti?"

*Glup* "Maksudnya... Talk show Rossy,"

"Iya betul. Bagaimana, mau?"

*Tarik napas panjang, nahan nangis* "Iya, mau,"

"Oke, kalau begitu terima kasih. Nanti ada Olive, produser saya yang akan hubungi kamu. Dia akan jelaskan apa saja yang perlu kamu siapkan,"

"Eh, Rossy?"

"Ya, Indi?"

"Ini serius?..."

"Hahaha, ya. Serius,"

"Aku penggemar acaramu. Aku senang kalau bisa tampil disana. Sungguh, aku senang. Terima kasih banyak..."

*Jeda agak lama* "Iya, sama-sama Indi. Sampai ketemu ya..."

"Da.. dadah..."

Dan meledaklah tangisan gue. Dengan cepat gue (coba) ceritain sama bokap apa yang baru gue denger tadi. Gue sangat exiting sampai-sampai tangisan gue berubah jadi tawa histeris.

"Selamat, ya. Kamu hebat. Tapi jangan bilang-bilang Ibu dulu ya? Ini kejutan!"

"iya, Pak! Rahasia dulu ya,"

"Ya ampun! Kak!"

"Apa??"

"Tadi Bapak terlalu konsen dengerin kamu cerita sampai-sampai kita salah jalan. Kita udah lewatin jalan ini 2 kali, kan?"

"Yah, Bapak..."

"Nggak apa-apalah nyasar, kan lagi seneng ini, hehehehe,"

Dan sampailah gue diacara gathering 1 jam setelah Ray sampai...

***

Persiapan dimulai segera setelah gue pulang dari acara gathering. Ray seneng buat gue, meski dia nggak bisa hadir waktu shooting karena harus kerja.
Gue mulai pilih-pilih baju. I love red, hampir disetiap kesempatan gue pakai warna merah. Tapi gue pikir warna orens lebih cocok untuk "Rossy" yang setting stage'nya selalu fresh tapi formal. Akhirnya, setelah gue dapat baju yang tepat, gue siapin bando dan sepatunya dengan warna serasi. It's kinda funny, btw. Seharian gue dan bokap cari sepatu orens di mall tapi nggak ketemu dan akhirnya malah ketemu di pasar! Hahahaha, hasilnya gue jadi bangga banget. Kalau nyokap tanya, gue pasti jawab, "ini dapet dari pasar lho...", hihihi.

Tapi jujur aja, meski persiapan gue secara "fisik" cukup matang, tapi mental gue ternyata ketar-ketir juga. Pasalnya selama 1 bulan belakangan gue kena penyakit yang agak mesterius. Dokter yang periksa gue belum temuin jawabannya. Bahkan sampai test Lab juga nggak nunjukin kelainan apa-apa (tapi 1 minggu setelah shooting ketauan kalau gue kena infeksi dalam yang parah, btw). Kulit gue gatel dan kalau digaruk muncul ruam-ruam merah kaya bekas kebakar. Badan gue juga rasanya panas sampai-sampai nggak betah kalau pakai baju yang agak tertutup. Bisa dibilang kesehatan gue sebenernya sangat nggak memungkinkan untuk shooting. Tapi gue takut kesempatan sebagus ini nggak datang lagi, jadi gue putusin buat menutupi keadaan kesehatan gue...


Dua hari kemudian, jam 8 pagi gue dan ortu berangkat ke Jakarta. Sebelumnya gue kabari dulu 2 teman gue untuk ikut tampil di "Rossy". Kebetulan tema kali ini adalah "Menembus Batas", tentang orang-orang yang berhasil untuk sukses ditengah keterbatasan fisik. Dua teman gue (Alien dan Yosef) adalah pengidap scoliosis juga, sama seperti gue. Dan mereka bisa bekerja normal selayaknya orang yang berfisik sempurna. Oya, untuk yang belum tau (hihihi), gue adalah pengidap scoliosis berat (kelengkungan 55 derajat), dan gue berprofesi sebagai model lokal dan penulis.

Setelah sampai di studio Global TV, gue diantar ke ruang tunggu (sambil celingak-celinguk cari Rossy, hihihi). Disana gue langsung ketemu dengan Pak Limin dan keluarganya. Pak Limin adalah seorang tuna daksa yang berprofesi sebagai penghibur. Dia juga pimpinan kelompok lenong betawi, lho! What a person! Belum mulai acara aja aku udah amaze, hehehe...
Menyusul kemudian, datang Alien dan Yosef yang masih bingung dengan ajakan gue yang mendadak, lol.

Selesai touch up (Gee, my face. Look so weird, lol), gue balik lagi ke ruang tunggu. Soalnya percuma gue berkeliaran di studio, kata si mbak make up artist, Rossy'nya belum datang, hihihi.
Disana gue ketemu sama Habibie. Spontan gue teriak, "Heeeeey, aku tau kamu!".
Tapi orang yang dimaksud malah cuek bebek, huhuhu, sebel. Langsung deh gue ngeluarin jurus "ikutan cuek" kalau ketemu Habibie, soalnya takut disangka sok akrab, hihihihi.


The Show. Te-re-ret-tereeeeet! Lol.
Satu jam kemudian semua pengisi acara dibawa ke studio. Brrr.. dingin banget. Kulit gue yang lagi sensitif langsung perih nggak karuan. Berbekal impian gue yang pengen duduk di soffa "Rossy", akhirnya gue bisa tutupi sampai selesai acara.

Dan, here's she is...
Rossy masuk ke dalem studio. She's so gorgeous, kulitnya bagus dan potongan rambutnya keren. Tapi yang paling gue perhatiin, dia nggak sekurus yang gue banyangin. She's so curvy. Bahkan kalau dibandingin gue yang selalu mengaku chubby ini, hihihi.

Memang dasar amatir, gue nggak tau kapan shooting dimulai. Tiap ada yang nanya, nyapa atau apalah, gue selalu nyangka kalau udah on tape. Maklum, gue belum pernah ikut shooting taping yang kru'nya banyak, hihihi..
Tapi akhirnya gue tau kapan shooting dimulai, yaitu waktu musik khas "Rossy" diputer dan penonton tepuk tangan meriah :)

Habibie masuk di segmen pertama. Gue yang dikasih tau bakal muncul di segmen kedua langsung deg-deg'an mati-matian. Gimana enggak, studio yang AC nya dingin minta ampun bikin suara gue rawan serak dan terbata-bata. Padahal waktu briefing aja mas-mas floor director udah bilang supaya gue ngomong yang kenceng, huhuhu.
Untung semua berjalan lancar, gue dipanggil ke atas stage dan bisa bicara dengan lancar. Semua yang mau gue sampaikan sebagai seorang penyandang scoliosis juga tersampaikan dengan jelas disana. Apalagi kata-kata Rossy begitu "melambungkan" hingga bikin gue semakin relax. Sampai-sampai setelah acara selesai gue ogah turun dari stage dan menyempatkan bilang terima kasih sampai ratusan kali (eh, ya... mungkin sekitar sebanyak itu lah, lol).

***

Tanggal 4 Oktober episode "Menembus Batas" tayang jam 10 malam. Gue dan ortu nonton dengan suka cita. Meski awalnya gue malu-malu liat wajah sendiri di TV tapi akhirnya gue bisa menikmati acaranya. Apalagi waktu gue teringat kejadian-kejadian konyol sebelum acara. Seperti dicuekin Habibie yang akhirnya malah menjadi sahabat gue (gue baru tau kalau dia bukan cuek tapi wajahnya emang tanpa ekspresi, hahaha) atau waktu liat rambut Alien dicatok yang ternyata cantik banget dikamera ;)

Sampai acara selesai gue masih senyum-senyum bangga. Bukan, bukan gara-gara kisah hidup gue dikupas diacara sebesar "Rossy". Tapi karena bangga ditengah keterbatasan ternyata gue masih bisa bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Menulis novel, merancang busana, menjadi model... dulu semua cuma impian gue, tapi sekarang semuanya jadi kenyataan. Termasuk untuk duduk di soffa empuk disamping Rossy. Yang ternyata menjadi nyata karena gue berani bermimpi!




Foto-Foto:


The Show: Rossy, Menembus Batas




Waktu gue masuk di segmen 2. Arrrg... clip on make my back look weird, lol



All "Star" :)




Finally.. me and Rossy, my idol :)
ssst.. she's holding my book: Waktu Aku Sama Mika



My FB personal account: Indi Sugar
My "Waktu aku Sama Mika" FB group: Waktu aku Sama Mika
My FB page: Indi Kecil Babbitt

Rabu, 29 September 2010

Hati-hati the Osbournes, Kalian Punya Saingan! :p


Selamat malam semuanyaaaa... Apa kabar?
Hari ini gue nulis dengan keadaan nggak jelas. Alias nggak tau gue lagi mood nulis atau nggak mood nulis (apa sih? lol).
Seharian ini waktu rasanya pendek. Gue turun dari tempat tidur hampir tengah hari, soalnya semaleman gue restless akibat sakit kepala yang ajaib (udah minum obat masih sakit, padahal terapis gue bilang gue nggak apa-apa. Nah, ajaib bukan!). Setelah itu buru-buru gue brunch (mau sarapan udah terlambat, hihihihi) terus ambil baju serampangan dan pergi ke kampus buat urusin kelulusan. Wah, sepanjang jalan rasanya lagi ada gempa bumi besar. Kepala gue nyut-nyut-nyut sampai bikin jalan gue sempoyongan, hahahaha...

Sykurlah semuanya lancar, surat lulus gue udah ada dan tinggal nunggu di tanda-tangani PD I. La, la, la, la, senangnya (padahal PD I itu lah yang paling susah dicari, jadi nggak jelas juga dapet suratnya kapan, hihihihi).
Hmm, semenjak lulus ini gue sering merasa "stress" kalau diem dirumah. Meskipun gue fresh from the oven (alias baru BANGET lulus), tapi nyokap gue udah khawatir banget gue bakal jadi pengangguran (duh!). Oya, yang dimaksud "pengangguran" sama nyokap maksudnya, dia nggak mau gue kerja dirumah kaya sekarang (gue penulis dan suka desain baju, btw). Beliau pengen gue keluar rumah, menemui orang betulan dan berkomunikasi pake suara gue, bukan hanya lewat internet. Sniff, It would be hard, Ma :p

Akhirnya, sekitar minggu lalu gue mulai cari-cari kerjaan yang pas buat gue. (Hmm, sebenernya sih, gue sempet ditawarin magang di sebuah media kampus, tapi sayang ternyata kerjaannya nggak cocok sama fisik gue yang "unik", karena harus datang daerah-daerah terpencil di Indonesia, huhuhu).
Tanpa sengaja gue liat ada lowongan untuk host perempuan di sebuah stasiun TV lokal. Nggak pake liat tanggal deadline, syarat, dll gue langsung telepon aja produser TV itu dan bikin janji ketemu (nekad bener, lol). Setelah interview yang lalalala, blahblahblah (banyak becanda dan basa-basinya, hihihi) akhirnya gue dapet kabar kalo posisi host di program TV yang gue pengen udah keisi! Oh, no :'(
Untunglah mereka lagi siapin program TV lain. Memang sih baru bulan depan nanti, tapi nggak apa-apa, lah. Dapet pekerjaan kan nggak mungkin instan :D

Sambil mengisi waktu, produsernya ternyata punya ide gila (lol). Dia pikir pasti bagus kalau keluarga gue dan rumah kami dibahas di program TV mereka. WHAT? Gue yang belum izin ortu langsung "iya-iya" aja di depan produser. Untunglah pas gue sampaiin kabar ini ortu gue nggak masalah.

***

Jadilah tanggal 24 kemaren rumah keluarga gue di survey. Gue yang waktu itu mau pergi ke kampus sempet-sempetin dulu jadi guide produsernya di rumah yang gedenya nggak seberapa ini (luas bangungan 350 m, 2 lantai dan taman belakang mentok sama jendela kamar, lol).
Sambil tunjukin ruangan-ruangan dirumah, gue pura-pura jadi pembawa acara MTV Cribs, hahahaha. Siapa tau produsernya mikir, "Wah, berbakat sekali gadis manis ini.."
Hihihihi...
Semuanya serba cepet dan mendadak, 3 hari yang lalu, alias tanggal 27 September keluarga gue dan rumah kami langsung di shoot! Jadilah kami yang minus banget soal acting di"hajar" habis-habisan. Tapi seru juga, terutama nyokap gue yang hobi banget bilang "CUUUUUUUT!" tiap kali dia salah ngomong, hahaha. Belum lagi bokap yang dengan konyolnya acting baca buku "Waktu aku sama Mika" tapi lupa pakai kaca-mata baca. Hihihihi, banyak banget kejadian konyol lah pokoknya. Sayang banget, Puja, adik gue nggak bisa ikutan karena lagi kuliah. Sebagai gantinya gue minta kameramen zoom foto dia terus-terusan, lol.

Ya, meski acara ini nggak ada hubungannya dengan pekerjaan gue, tapi gue nggak nyesel dan bangga bisa muncul disini. Soalnya pengalaman ini nggak akan pernah gue dapet kalau gue nggak "nekad" ngelamar jadi host di stasiun TV lokal, hihihi.
Oya, buat temen-temen yang tinggal di Bandung, jangan lupa saksikan keluarga kami (cieeee...) di program "IMAH" jam 5.30 sore di STV, hari Jumat tanggal 1 Oktober. Saran dan kritik kami terima dengan senang hati, hahahaha ;)

Sedikit foto-foto di rumah kami:


*Kamar gue yang girly tapi juga rock n roll*


*Kamar tidur ortu yang ala keraton, hahahaha*


*Ruang tamu*


*Kamar mandi*


*Sehabis shooting: Kang Zein (host), gue (siapa ya? lol) dan, Kang Bram (arsitek)*





my Group: Waktu Aku sama Mika (FACEBOOK)
my Page: Indi Kecil Babbitt
(FACEBOOK)

Sabtu, 25 September 2010

Belajar dari Pak Benigni

Halo?
Ah, lama juga gue nggak duduk di depan komputer tua, nyentuh keyboard dan nulis pengalaman gue sehari-hari. Hmm, sebenernya bukan berarti nggak ada yang mau gue ceritain. Belakangan ini hari-hari gue menyenangkan dan banyak hal baru, kok. Tapi sakit yang nggak kunjung sembuh bikin gue agak "malas" buat menulis. Selama sebulan ini gue langsung istirahat setelah aktifitas. Maklum, tubuh lagi nggak bisa diajak kompromi :) Padahal banyak sekali hal-hal baru yang pengen gue bagi. Tentang gue yang (hampir) gagal jadi host di stasiun TV lokal, diundang ke acara talkshow favorit, sampai tentang sakit gue yang nggak kunjung sembuh.

Tapi sekarang gue nggak akan bahas tentang hal-hal itu. Ya, itung-itung pemanasan setelah lama nggak nulis, gue mau nulis yang santai-santai dulu, hehehe.
Hmm, gimana kalau tentang idola gue? Setuju? Nggak?
Okay, kalau gitu gue bikin tulisan ini khusus buat yang setuju aja. Buat yang nggak setuju, silakan klik "ARSIP BLOG" di sudut kanan halaman ini. Masih ada cerita-cerita gue yang lain, kok, lol.


Gue mengagumi Roberto Benigni. Ya, dia idola gue.
Waktu itu gue masih duduk di bangku SMP dan pertama kali mengenal ia lewat film "Life is Beautiful". Film ini sangat berkesan buat gue karena sukses bikin gue nangis di masa pra remaja yang serba "jaim". It's amazing. Sebelumnya gue jarang sekali nunjukin emosi kalau nonton film (kecuali film "Air Bud". That's another story, lol).
Semakin gue dewasa, gue mulai sengaja mencari-cari film aktor asal Itali ini. Dan ternyata memang nggak mengecewakan. (Hampir) semua filmnya sukses bikin gue meneteskan air mata dengan cara yang nggak cengeng. Karena film-film'nya selalu penuh inspirasi dan merubah rasa takut jadi sesuatu yang "fun".

Tapi ada 2 film favorit gue. "Life is Beautiful" dan "The Tiger and the Snow". Film-film ini disutradarai oleh Mr. Benigni sendiri. Yup, he's genius! Selain bisa akting, dia juga menulis cerita untuk film-film'nya. Dan selama gue mengalami "sakit lama-entah kapan sembuh" ini, gue jadi punya kesempatan buat nonton ulang 2 film kesukaan gue ini. Entah untuk keberapa kalinya, tapi kali ini gue masiiiih aja meneteskan air mata.
Hmm, buat yang belum pernah nonton film-film'nya mungkin bakal nggak percaya dengan kesaktian idola gue ini. Gue tau selera orang beda-beda. Tapi gue sarankan kalian untuk menilai sendiri, minimal dari 2 film yang gue sebutkan tadi. Nih, gue kasih review singkatnya. Siapa tau bisa jadi bahan pertimbangan film mana yang mau kalian tonton duluan :)


.:.Life is Beautiful (1997).:.



Sesuai judulnya, film ini memang menceritakan tentang betapa berharganya kehidupan. Gue menangkap arti yang luas dari film ini, bahwa betapa berharganya pasangan, anak, keluarga dan teman kita meski dalam keadaan tersulit sekalipun.

Guido, seorang Yahudi sederhana yang ceria suatu hari tanpa sengaja bertemu dengan Dora, seorang guru cantik yang berkelas. Meski hanya melihatnya sekilas, Guido langsung jatuh cinta pada Dora. Dengan segala keterbatasannya ia berusaha menarik perhatian Dora sampai akhirnya mereka berhasil menikah.
Beberapa tahun kemudian mereka memiliki anak laki-laki lucu, Giosue, yang membuat kehidupan mereka semakin indah. Hari-hari mereka jalani dengan rasa syukur dan iklas meski mereka hidup sangat sederhana (Dora meninggalkan kehidupan mewahnya dan memutuskan untuk membantu Guido mengelola toko buku kecil).

Hingga 5 tahun kemudian, kehidupan indah mereka dirusak oleh kehadiran tentara Jerman yang "memburu" seluruh keturunan Yahudi. Guido, yang memang seorang Yahudi dibawa secara paksa oleh tentara dan dipekerjakan secara semena-mena. Karena cintanya, Dora (beserta anak mereka, Giosue) menyusul suaminya dan ikut bekerja paksa meski ia sama sekali nggak diizinkan untuk melihat suami dan anaknya.

Selama di kamp pekerja Guido "membohongi" anaknya yang masih sangat kecil bahwa yang sedang mereka lakukan sebenarnya permainan dalam rangka merayakan ulang tahun Giosue. Giosue pun percaya dan menjalani siksaan Jerman dengan gembira karena mengira akan diberikan mobil-mobilan ketika permainan selesai.

Jujur aja, ini adalah film Mr. Benigni yang paling sering gue tonton ulang. Mungkin gue udah nonton film ini sebanyak 10 kali dan masih nangis waktu liat endingnya. Endingnya begitu indah dan "mengejutkan". Saking bagusnya gue sering mengajak teman dan keluarga buat nonton film ini. Gue menikmati sekali reaksi "surprise" mereka sepanjang film ini. Bener-bener film yang menginspirasi :)



.:.The Tiger and the Snow (2005).:.


Nggak gampang buat me'review film ini. Selain karena twist ending yang nggak asik kalau diceritain duluan, alur film ini juga mungkin agak susah dimengerti kalau nggak ditonton langsung.

Attilio seorang duda beranak dua selalu memimpikan hal yang sama setiap malam. Ia selalu melihat dirinya sendiri menikah dengan mengenakan piyama. Anehnya mimpinya selalu terputus karena ia selalu terbangun.
Attilio sangat terobsesi dengan mempelai wanita dimimpinya meskipun ia sudah memiliki seorang pacar. Sayang, Vittoria, wanita impiannya itu nggak mempedulikan Attilio.

Suatu hari, Attilio mendengar kabar bahwa Vittoria mendapatkan kecelakaan di Baghdad. Tanpa pikir panjang Attilio langsung menyusulnya dari Prancis dengan cara menumpang pada sebuah organisasi kemanusiaan (semacam PMI gitu, lah, lol). Setiba di Baghdad ternyata Vittoria sudah dalam keadaan koma. Dokter yang memeriksanya menyatakan ia sudah sekarat karena di rumah sakit sedang kekurangan obat-obatan. Vittoria pun dibiarkan begitu saja karena keadaan sedang perang dan banyak nyawa yang lebih "berharga" untuk diselamatkan.

Attilio yang sebenarnya tau keadaan Vittoria tetap menemaninya dan menganggapnya seolah sedang tidur. Setiap hari ia mengajaknya berbicara dan mencarikan obat-obatan. Meskipun usahanya sangat beresiko, Attilio nggak pernah berhenti. Bahkan setelah ia ditodong senjata olah tentara Amerika yang menyangka dirinya seorang Arab karena memiliki logat "asing" dan warna kulit yang kecoklatan.

Adegan-adegan tentang perjuangan Atillio mengisi hampir disepanjang film sampai akhirnya sampai pada ending yang "twist", yang lebih baik di tonton sendiri. Menurut gue ini film percintaan yang paling "sempurna" yang pernah ada. Semuanya serba sederhana dan tanpa syarat. Gue bahkan memaksa Ray, yang waktu itu baru satu tahun menjadi pacar gue untuk nonton film ini. Ray bukan tipe laki-laki penyuka film romantis, tapi ternyata ia "menyandera" DVD ini untuk ditonton kedua kalinya. Sampai hari ini, setelah hampir tiga taun hubungan kita, Ray dan gue menganggap kalau film ini memberi pelajaran berharga dalam hubungan kita :)


Ya, itulah review gue tentang 2 film Mr. Benigni kesukaan gue. Gue nulis ini tengah malem dengan mata sepet, tapi semoga aja kalian bisa mengerti bahasa "ajaib" gue, lol. Sekali lagi, gue tau selera orang beda-beda. Tapi gue berani bertaruh kalau kalian nggak akan bisa menolak pesona si jenius Roberto Benigni ;)


NB: Dikedua film, yang memerankan Dora dan Vittoria adalah istri Mr. Benigni di kehidupan nyata, lho.



Rabu, 11 Agustus 2010

Cita-cita...



Potong kue di ultah gue ke 22 sama nyokap :)



My Family-Ibu baru aja bangun tidur, hahahaha :)



Halo, apa kabar semuanya? Buat yang menjalankan ibadah puasa, gue ucapin selamat berpuasa, ya. Semoga ibadah tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Amen :)

Satu minggu belakangan, gue baru ngalamin "kerasnya hidup", hehehe. Maksud gue, kehidupan gue setelah lulus kuliah jauh lebih berat daripada waktu kuliah (yang memang sudah sulit, huhuhu). Gue mulai dituntut untuk lebih mandiri, punya penghasilan sendiri dan pekerjaan yang stabil.
Gue sama sekali nggak keberatan dengan "peran" baru ini. Toh gue memang sudah dewasa dan terbiasa membiayai diri sendiri (sejak kuliah gue nggak dapet uang saku). Tapi yang jadi masalah justru kekhawatiran ortu (terutama nyokap) gue!

Sejak gue masih remaja, nyokap, yang gue panggil "Ibu" sudah khawatir dengan "masa depan" gue. Perkembangan gue yang ajaib sebagai remaja, bikin dia ketakutan setengah mati kalau anaknya nggak bisa sehebat keponakan-keponakannya.
Suatu waktu pernah Ibu bertanya apa cita-cita gue. Dengan percaya diri gue jawab,
"Aku mau jadi penulis dan apapun, asalkan bekerja dengan anak-anak".
Dan shock lah nyokap gue...

Bahkan semenjak gue belum lulus SD, nyokap sudah bercita-cita punya anak yang sukses, punya karier yang cemerlang dan mapan. Jujur aja, awalnya memang menjadi beban tersendiri buat gue, yang secara kebetulan dilahirkan sebagai anak pertama, hehehe. Tapi lama-lama gue pikir, gue bisa kok sukses dengan pekerjaan yang gue sukai. Toh apapun kalau dikerjakan dengan serius pasti "menghasilkan".
Ternyata nyokap berpikir lain, baginya untuk sukses gue harus kerja kantoran. Begaji tetap dan bukan kerja "serabutan" kaya sekarang...
Agak menyakitkan, memang... Tapi begitulah, sebagai fresh graduate yang masih tinggal di rumah ortu, gue harus mendengarkan keinginan nyokap...

***

Adik, Bokap dan Gue, waktu nyokap gue ultah di Lembang. It's 2008.



Akhirnya beginilah gue, mulai cari pekerjaan yang nggak ada hubungannya dengan dunia yang gue suka. Nggak ada tulis-menulis, khayal-mengkhayal (bahasa opo iki? lol) atau anak-anak. Sudah beberapa CV gue kirim via e-mail kebeberapa tempat. Ada yang ditanggapi ada juga yang nggak.
Salah satu yang ditanggapi datang dari sebuah lembaga pendidikan (nama dan profesinya rahasia, ya! Hehehe). My Mom is soooooo exited! Sampai-sampai dia langsung bikin baju baru buat gue. Buat kasih "miracle" di interview gue katanya. Gue sih cuma bisa mesem-mesem nggak karuan. Soalnya kalau manyun gue nggak tega sama nyokap yang sudah begitu bahagia (dan mendoakan gue pagi-siang-malem--kapanpun--).


Rata PenuhMe and Daddy di ultah gue ke 24. Look at my face. Gue nggak mandi karena lagi kena demam berdarah :p



Interview gue kebilang lancar, meski gagal bikin janji sebanyak 2 kali. Tapi setidaknya gue menunjukan ketertarikan dengan interview'nya meski gue blank sama sekali tentang profesi "itu".
Sampai hari ini (3 hari kemudian setelah interview), gue masih belum dapet panggilan. Terlalu dini untuk bilang gue gagal dan terlalu "deg-degan" juga untuk bilang gue masih punya harapan. Nyokap gue mulai gelisah dan takut gue gagal. Gue, meskipun nggak terlalu menginginkan pekerjaan itu ikutan nggak enak dan berdoa semoga Tuhan kasih pekerjaan itu sama gue. Yah, kalaupun nantinya gue nggak cocok kerja disana, at least gue sudah mencoba dan bikin nyokap gue bahagia...

***



Dadddy and Me. Foto ini diambil sama Gina, sepupu gue.



Ditengah kegelisahan gue, justru bokap yang sangat optimis dengan masa depan gue. Baginya pekerjaan itu apa saja, asal halal. Karena itulah kenapa dulu anak-anak diajari untuk punya cita-cita. Ya untuk dicapai, bukan untuk diubah ketika dewasa...
Jujur gue terharu dengan dukungan bokap. Selama ini gue selalu tahu kalau bokap sayang gue, tapi jarang sekali dia tunjukin dengan cara-cara verbal.
Gue masih inget dengan jelas percapakan kami waktu dia anterin gue interview,

Bokap (B): "Kalau ini nggak berhasil, jangan sedih. Bilang saja sama Ibu apa adanya. Mungkin nanti kamu diizinkan kerja di koran XX (nyebutin nama)."

Gue (G): "Iya, tapi Ibu kan maunya nulis hobi saja. Kerja harus yang ada tunjangannya..."

B: "(Diam agak lama)... Kapan-kapan ambilah uang tabunganmu beberapa ratus ribu. Traktir Ibumu, Nenek juga Kakek."

G: "Untuk apa, Pak?"

B: "Bilang ini hasil menulis. Supaya mereka tahu, kalau menulis itu pekerjaan. Bukan sekedar hobi..."

***

Sampai detik ini gue masih deg-degan soal interview gue. Masih takut juga bikin nyokap kecewa. Tapi at least gue tahu kalau ada yang mendukung cita-cita gue dan percaya sama gue apapun profesi yang gue ambil suatu hari nanti.



Bapak, Ibu... Aku kebingungan.
Aku menghargai impian kalian.
Sangat menghargai...
Jadi tolong doakan saja aku berhasil dengan jalan yang aku pilih.
Bukan dengan jalan yang sama sekali tidak aku kenal.
Jika kalian (terutama dirimu, Ibu) tetap menginginkan aku mengambil jalan lain,
aku akan menurut.
Tapi tolong tuntunlah aku agar tidak tersesat.
Dan berikanlah aku waktu untuk belajar...

Bapak, Ibu. Aku sayang kalian...

Selasa, 10 Agustus 2010

Smiling with Their Tails :)






























































*Veggie main bola basket, Veggie kedinginan, Veggie & gue dan Eris pakai pita*





Gue baru aja nyuruh Eris, anjing gue masuk rumah supaya nggak kehujanan. Wah, mengadopsi Eris itu seperti punya adik kecil. Kadang bikin jengkel, tapi seringnya bikin senyum lihat tingkah lucunya...

***

Gue dibesarkan dikeluarga pecinta hewan. Sejak bayi gue sudah akrab dengan ikan, burung, tikus, kura-kura dan terutama anjing.
Sejak gue berusia 10, gue tahu anjing merupakan hewan yang istimewa. Setiap hari, sepulang sekolah, Black (anjing gue saat itu) selalu menunggu di depan pagar. Menyambut gue dengan keramahan berlebihan tapi menyenangkan. Black selalu menabrakkan badan besarnya ketubuh gue, lalu menjilati pipi gue sampai basah. Hahaha, terdengar jorok? Memang. Tapi waktu itu gue merasa kalau jilatan hangat Black sama rasanya seperti seorang sahabat yang menyapa, "Hai, bagaimana harimu tadi? Kemana saja? Aku kangen kamu!".

Seiring berjalannya waktu gue semakin kagum dengan binatang spesial ini. Malah, waktu gue SMA, gue bikin karangan untuk UAS Bahasa Indonesia dengan judul "Sahabat Anjingku". Bu guru bilang cerita gue bagus dan menginspirasi dia untuk mengadopsi anjing.
Beberapa teman gue nggak ngerti kenapa gue bisa mencintai makhluk berliur berbulu protein. Malah ada yang bilang gue jorok. Tapi gue nggak pernah marah. Gue lebih memilih menjelaskan pada mereka apa yang gue lihat sebenarnya dari mahluk ini. Gue yakin, suatu hari mereka akan percaya kalau gue benar. Seperti bu guru.

Banyak yang gue kagumi dari anjing. Hal pertama adalah kesetiaannya atau loyalitasnya. Pernah kalian denger anjing yang ninggalin tuannya? Nggak? Gue yakin begitu.
Gue percaya tugas pertama yang diberikan Tuhan untuk seekor anjing adalah menjadi setia. Mereka (para anjing) nggak akan pernah punya alasan untuk meninggalkan tuannya, bagaimanapun keadaannya. Veggie, anjing golden retriever yang gue adopsi sejak berusia 1,5 bulan nggak pernah sekalipun meninggalkan rumah meski pintu nggak terkunci dan nggak ada siapa-siapa. Sebelum gue atau anggota keluarga gue pulang, dia akan duduk manis didepan pintu dan siap menyambut kami. Pernah suatu hari karena suatu insiden, keluarga gue nggak bisa pulang ke rumah selama 2 hari. Ketika kami pulang, Veggie masih di tempat semula meski tanpa makanan!
Sungguh gue begitu kagum dengan cara pikir anjing yang selalu percaya kalau tuannya akan datang. Padahal, setahu gue saat beberapa jam saja anjing menunggu, itu sama rasanya dengan beberapa hari kalau manusia menunggu. What an amazing creature!

Hal yang kedua sudah pasti insting melindunginya. Gue taruhan kalau orang yang mengadopsi anjing merasa lebih aman daripada yang nggak mengadopsi (kecuali yang "mengadopsi" bodyguard yah... Itu lain cerita dan gue nggak mau ikut-ikutan, ah, hehehe). Bahkan buat yang mengadopsi anjing chihuahua sekalipun! Anjing sekecil apapun, kalau merasa ada yang mengancam tuannya, dia pasti akan bereaksi. Minimal menggonggong.
Eris, anjing gue yang berwatak sangat penakut (lihat jarum suntik aja nangis, hihihi) pernah menyerang orang nggak dikenal yang ternyata mau maling motor bokap gue. Wah, keluarga gue sampai heboh. Soalnya kami nggak pernah nyangka kalau anjing pendiam ini suatu hari bakal jadi pahlawan :)

Hal yang ketiga, gue kagum berat sama wataknya yang mau belajar. Meski sudah tua, anjing selalu mau belajar. Tahu kan pepatah yang bilang bahwa nggak pernah ada kata terlambat kalau kita mau ajarin trick baru sama anjing? Ini bukan sekedar pepatah, karena anjing pada dasarnya memang suka belajar. Veggie belajar trick terakhirnya justru beberapa saat sebelum kematiannya. Meski sakit-sakitan, dia tetap suka bermain. Waktu gue ajarin dia cara lepasin selot garasi, she's so exiting! Nggak ada yang pernah menyangka kalau beberapa hari setelahnya Veggie pergi untuk selamanya...
Ya, anjing memang always young at heart. Nggak peduli setua apapun, mereka akan tetap semangat belajar. Gue yakin kita semua mau seperti itu, kan?

Dan yang terakhir: Mereka memandang hidup much funnier than us!
Dog's smiling with their tail. Berapa kali anjing wagging tail dalam satu hari? Many time, kan? Itu artinya anjing lebih sering bergembira daripada kita. Anjing nggak akan pernah peduli berapa banyak mainan yang dia punya, seberapa lezat masakan kita atau seberapa sering dia pergi keluar kota.
Untuk berbahagia anjing cuma perlu satu tepukan hangat di kepalanya setiap pagi, digaruk perutnya disiang hari dan dipersilakan tidur ditempat hangat di malam hari.
Gue masih belajar untuk seperti itu. Gue ingin seperti mereka yang nggak pernah komplain dan menikmati semua yang diberikan Tuhan tanpa protes. Setiap kali gue lupa untuk tersenyum, gue selalu teringat Eris yang cuma punya 1 mainan karet tapi selalu tampak bahagia :)

Nah, gimana, apa sekarang kalian mengerti kenapa gue sangat mengagumi anjing? Yah, gue rasa "jawaban" gue sudah cukup untuk membuat kalian punya alasan untuk mengadopsi anjing. Kalau belum, pikirkan dua hal ini: Kalian akan lebih sehat. Karena anjing selalu jadi alasan baik untuk berjalan-jalan di sore hari. Dan yang terakhir, anjing selalu jadi alasan untuk bersosialisasi ditempat yang paling asing sekalipun. Mau tahu buktinya? Gue rasa kalian harus coba sendiri ;)


Dedicated to: Black, Ted, Bob, Skippy di surga para anjing dan Eris, selamat datang dikeluarga kami.



(must see dog movie: Air Bud, Rin Tin Tin, Homeward Bound, Lassie, Hatchiko-Japanesse Version)